MENCIPTAKAN JOYFUL LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

MENCIPTAKAN JOYFUL LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR- Judul tulisan ini merupakan judul makalah yang dikirimkan oleh Mas  Chrisnaji Banindra Yudha dari  STKIP Kusuma Negara Jakarta untuk Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar (SENADA) 2017.

Ringkasan - Prinsip Pembejaran Joyful Learning (pembelajaran yang menyenangkan) menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, nyaman, dan mendorong peserta didik untuk belajar. Dalam Pembelajaran yang menyenangkan diciptakan lingkungan belajar yang bersifat rekreasi dan bersenang-senang yang berdampak pada perhatiannya atau konsentrasi yang tinggi. Pendidik bersikap hangat dan memotivasi peserta didik dalam pembelajaran matematika khususnya. Peserta didik pada tingkat sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret.

Pendahuluan - Mata pelajaran Matematika membentuk pola pikir yang mempelajarinya. Peserta didik khususnya, diantaranya berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dengan penuh kecermatan. Proses pembentukan pola pikir peserta didik dapat diterima dengan baik apabila pembelajaran matematika di sekolah dikemas secara sistematis. Kemampuan kreatifitas dan profesionalisme pendidikdalam memberikan pembelajaran matematika diperlukan dalam hal ini. Masuk pada era digital yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak kreatifitas yang dapat diterapkan oleh seorang pendidik . Peneraan tersebut meliputi metode pembelajaran dan strategi pembelajaran yang tepat dan menyengankan. Pada pelaksanaannya, penerapan metode atau srategi tersebut disesuaikan dengan perkembangan berpikir anak terutama peserta didik pada tingkat sekolah dasar. Dengan demikian, tugas pendidik dalam hal ini memberikan pembelajaran matematika dengan metode atau strategi yang dapat membentuk pola pikir anak dan disesuaikan dengan perkembangan berfikir anak serta bersifat menyenangkan.

Menurut Piaget, peserta didik sekolah dasar berada pada tahap operasional konkrit. Pada tahap ini menggambarkan pemikiran peserta didik berdasarkan logika yang bersifat kekal. Peserta didik yang berada pada tahap ini, mereka mampu membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat. Oleh karena itu, melalui tahap ini peserta didik telah mampu untuk menerima dan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan dasar mata pelajaran matematika dalam rangka pengembangan pengetahuan pada jenjang pendidikan selanjutnya.

Mempelajari matematika dibutuhkan analisa yang mendalam dari pada ilmu yang lain. Dalam kondisi ini peserta didik sering mengalami dan menemui kesulitan. Pendidik yang menyampaikan mata pelajaran matematika terkadang beranggapan bahwa peserta didik dapat memahami konsep dalam matematika seperti yang dipahami oleh pendidik tersebut. Pada kenyataannya, peserta didik menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit untuk dimengerti. Anggapan yang semacam ini akan terus menerus menjadi momok bagi setiap peserta didik sampai generasi berikutnya. Oleh karena itu, peran pendidik sangat penting untuk membangun keyakinan peserta didik terhadap matematika khususnya di Sekolah Dasar. Dengan demikian untuk menyampaikan dan mempelajari mata pelajaran matematika diperlukan metode pembelajaran yang tepat.

Joyful Learning merupakan metode pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan meliputi metode belajar mengajar yang menyenangkan. Melalui pembelajaran yang menyenangkan materi-materi pembelajaran dapat disampaikan pendidik dengan mudah. Pembelajaran yang menyenangkan dapat didukung melalui keaktifan peserta didik yang menjadi subjek pembelajaran. Peserta didik aktif dalam joyful learning karena mereka tahu guna dan manfaat belajarnya. Selain keaktifan peserta didik , pendidik pun dituntut untuk mampu berperan hangat, kooperatif, sosok orangtua, dan sebagai fasilitator. Dengan demikian, melalui Joyful Learning peserta didik mampu belajar dan tahu apa fungsi belajar yang dipelajarinya.

Makalah ini dapat digunakan untuk pendidik, dalam rangka menanamkan pembelajaran yang menyenangkan pada peserta didiknya. Diharapkan peserta didik mampu untuk belajar dengan menyenangkan dengan penuh perhatian yang tinggi.

Pengertian Joyfull Learning - Menurut E. Mulyasa (2006:191-194) joyfull learning merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under presssuere). Pembelajaran yang menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga peserta didik memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi (Depdiknas 2004: 3, 3-8). Zuroidah (2005: 36), pembelajaran menyenangkan berarti sesuai pembelajaran yang tidak membosankan. Jika peserta didik terlibat langsung sebagai subjek belajar maka mereka selalu senang dalam belajar. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa, Pembelajaran dikatakan menyenangkan apabila dalam pembelajaran tersebut terjadi interaksi yang rileks, tidak ada ancaman atau bebas dari tekanan, keterlibatan peserta didik dan pendidik tercipta dengan hangat dan bergembira akan tetapi memiliki tingkat perhatian yang tinggi.

Prinsip Joyful Learning - Prinsip pembelajaran yang menyenangkan sangatlah sederhana, yaitu peserta didik senang dalam belajar dan belajar tahu untuk apa dia belajar. Untuk mendukung pembelajaran yang menyenangkan, seyogyanya disiapkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan memanusiakan peserta didik . Perhatian dan focus yang tinggi dalam pembelajaran dapat muncul pada kondisi kelas yang nyaman. Menurut Asri C. Budiningsih (2005: 7), lingkungan belajar yang demokratis memberi kebebasa kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan tindakan belajar dan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar sehingga akan memunculkan kegiatan yang kreatif dan produktif. Pada kondisi nyata dewasa ini, ada banyak pendidik yang memiliki aturan yang taat di kelas. Taat yang dimaksud dalam hal ini adalah memberi kesan menakutkan peserta didik . Prakarsa anak dalam belajar dimungkinkan akan berkurang dan bahkan hilang ketika peserta didik dihadapkan pada kondisi tersebut. Anak akan kehilangan kebebasan dalam belajar dan bertindak. Peserta didik akan mengembangkan pertahanan diri yang tinggi, hal ini merupakan suatu keadaan manusiawi dimana terjadinya tekanan atau rasa takut pada peserta didik . Menurut Asri C. Budiningsih (2005: 7), anak-anak demikian akan mengalami growth in learning dan akan selalu meyembunyikan ketidaktahuannya.

Peserta didik dapat belajar pada lingkungannya. Lingkungan peserta didik adalah suatu keadaan dimana timbul keceriaan, kegembiraan, keluesan dan penuh dengan cinta. Dari lingkungan yang telah tercipta tersebut peserta didik mampu untuk memiliki kepercayaan diri, perasaan akan pengakuan terhadap dirinya pun akan muncul. Munculnya kondisi tersebut karena peserta didik diberikan kebebasan untuk mengekpresikan terhadap dirinya. Dengan demikian prinsip Joyful Learning adalah menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendorong anak untuk belajar.

Langkah Joyful Learning - Joyful Learning dalam pelaksanaannya menggunanakan proses pembelajaran yang memberikan kesan gembira melalui games, kuis, aktifitas yang bersifat fisik. Joyful Learning menggunakan pendekatan permainan dan rekreasi agar muncul kreatif, aktif dan menyenangkan.

1) Tahap persiapan

a) Mengajak peserta didik keluar dari mental yang pasif
b) Menyingkirkan rintangan belajar
c) Merangsang minat dan rasa ingin tahu peserta didik
d) Member peserta didik perasaan yang positif mengenai dan hubugan bermakna dengan topic pembelajaran.
e) Mendorong peserta didik untuk bergembira, aktif berfikir, menciptakan, tumbuh, dan memiliki konsentrasi yang tinggi.
f) Mengajak peserta didik untuk bersedia masuk dalam komunitas belajar. Pada tahap ini pendidik dapat memberikan dorongan kepada peserta didik melalui yel-yel, bernyayi bersama, bertepuk riang bersama.

2) Tahap penyampaian

Dalam tahapan yang kedua atau tahap penyampaian, peserta didik diajak untuk belajar pada hal-hal yang nyata dan sering peserta didik jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran matematika dimulai dari pengenalan masalah yang sesuai dengan kontek dan situasi. Mengajukan permasalahan yang kontektual. Peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasi konsep/materi matematika yang sedang dipelajari. Pendidik memotivasi peserta didik bahwa matematika merupakan pembelajaran yang sangat mudah dan sesuai dengan kehidupan nyata.

3) Tahap pelatihan

Tahap pelatihan merupakan tahap yang inti. Apa yang dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan peserta didik lah yang menciptakan pembelajaran sebenarnya dan bukan apa yang dikatakan serta yang dilakukan oleh pendidik . Peserta didik dimohon untuk mempraktikkan secara berulang, keterampilan-keterampilan yang diperoleh selama pembelajaran berlangsung. Peserta didik memperoleh umpan balik dari pendidik secara segera dan melaksanakan beberapa keterampilan yang lainnya. Mintalah pendapat peserta didik , apakah yang mereka alami dan berikan kesempatan pada peserta didik untuk memberikan idenya mngenai peningkatan prestasi yang akan diperolehnya selanjutnya.

Pembelajaran diseting seolah-oleh bermain. Hal ini dapat didukung melalui animasi, gambar, atau games berbentuk kuis yang diharapkan peserta didik mampu untuk lebih tertarik dan senang dalam pembelajaran. Peserta didik yang memiliki keterampilan, idea tau gagasan yang paling baik, maka dapat diberikan kesempatan untuk memperoleh hadiah atau sertifikat. Pada sela-sela pembelajaran agar muncul lingkungan yang bergembira, maka pendidik dimohon untuk berkreasi seperti melawak, berpantun ria, atau kesan akarab lainnya.

4) Tahap penutupan

Pada tahap ini pendidik memberikan penguatan terhadap materi yang telah diperoleh peserta didik . Hal tersebut bias dilaksanakan dengan menyimpulkan pembelajaran yang telah diperoleh. Pada tahap ini pendidik dapat menutup pembelajaran dengan memutarkan film (apabila ada sarananya), bernyayi bersama-sama atau beryel-yel bersama.

Joyful Learning dalam matapelajaran matematika -Dalam menerapkan Joyful Learning dalam mata pelajaran matematika terdapat beberapa tahapan yaitu

1) Tahap dasar, pendidik meyapa peserta didik dengan ramah dan bersemangat serta menciptakan suasana yang rileks. pendidik bersama peserta didik bernyayi bersama dan pendidik memotivasi peserta didik bahwa matematika adalah pembelajaran yang mudah.

2) Tahap pelaksanaan, pemberian masalah kontektual kepada peserta didik Peserta didik menemukan sendiri suatu konsep, prinsip atau prosedur dengan melalui penyelesian masalah kontektual. Masalah yang real atau masalah yang kontektual untuk mengawali pembelajaran. selain itu, variasi strategi informal juga diperlukan. dari Joyful Learning strategi tersebut, peserta didik dengan bimbingan pendidik melaksanakan generalisasi dan formalisasi, sampai peserta didik menemukan algoritma. Untuk memberikan kesan rileks, pendidik bias merubah tempat duduk peserta didik secara fleksibel.

3) Tahap penemuan, peserta didik aktif mengkontruksi sendiri bahan-bahan matematika berdasarkan fasilitas dengan lingkungan belajar yang disediakan pendidik , secara aktif menyeleseikan soal dengan cara masing-masing. kegiatan belajar bersifat interaktif, yang memungkinkan terjadi komunikasi dan negosiasi antar peserta didik .

4) Tahap refleksi, Peserta didik menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (peserta didik lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain, dan pendidik melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran.

Kesimpulan

1) Joyful Learning dapat diterapkan pada proses pembelajaran, khususnya matematika.
2) Ciptakan lingkungan belajar yang gembira dan penuh rekreasi.
3) Pendidik dituntut untuk mampu berperan hangat, kooperatif, sosok orangtua, dan sebagai fasilitator.
4) Dalam Joyfull Learning, keterlibatan peserta didik dan pendidik tercipta dengan hangat dan bergembira akan tetapi memiliki tingkat perhatian yang tinggi.

Daftar Pustaka

Asri Budiningsih. C., 2005. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara
E. Mulyasa. 2006. Menjadi Pendidik Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Depdiknas. 2004. Peningkatan kualitas pembelajaran. Jakarta: Depdiknas Ditjen
Zuroidah (2005: 36), meningkatkan kemampuan belajar. Jakarta: Bumi Aksara

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comments
0 Comments

0 Response to "MENCIPTAKAN JOYFUL LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel