Beberapa Pendapat dalam Mengajar Matematika yang dianggap Benar oleh Sebagian Besar Guru


Ilustrasi : Guru Mengajar (sumber: usnews.com)

Apakah semua guru suka matematika? Apakah semua siswa menyukai matematika? Terlepas dari ya atau tidak atas kedua pertanyaan ini, faktanya  harus diakui bahwa matematika adalah salah satu mata pelajaran atau bidang  yang hampir sebagian besar orang entah guru, orang tua dan siswa tampak membencinya ataupun sebagian menyukainya. Tetapi kenyataannya adalah bahwa seharusnya matematika tidak boleh dipandang seperti itu karena suka atau tidak suka matematika ada di sekitar kita dan sadar atau tidak sadar semua orang memakai matematika.

Perasaan suka atau tidak suka terhadap matematika disebabkan oleh sejarah panjang akan pendapat guru dalam mengajar matematika.Terdapat banyak kesalahpahaman (miskonsepsi) yang membentuk presepsi orang terutama guru terkait dengan bidang pembelajaran matematika. Mudah-mudahan hal ini tidak lagi muncul  di masa yang akan datang karena begitu pentingnya matematika dalam kehidupan.

Berikut adalah tujuh kesalahpahaman tentang mengajar matematika yang dianggap benar oleh semua orang, dan argumen terhadap kesalahpahaman ini. Diharapkan, ketika telah membaca artikel ini, para guru dapat mempertimbangkan kembali apa yang dipikirkan atau yang diketahui dalam hubungannya dengan profesi mereka mengajar matematika.

Beberapa Pendapat dalam Mengajar Matematika yang dianggap Benar oleh Sebagian Besar Guru - 

#1. Pendapat bahwa ada siswa yang tidak memiliki kemampuan matematika

Banyak orang termasuk guru berpendapat bahwa tidak semua siswa memiliki kemampuan matematika. Sama seperti bahwa semua orang bisa dilatih untuk memiliki kemampuan membaca (atau berbahasa),faktanya  adalah bahwa semua orang dilahirkan dengan kemampuan bawaan untuk melakukan matematika. Bersamaan dengan membentuk sikap positif siswa terhadap matematika, guru dapat membimbing semua siswa dalam matematika dengan lingkungan belajar yang mendukung dan  memungkinkan siswa belajar pemecahan masalah secara kreatif.

#2.Pendapat bahwa hanya ada satu cara untuk memecahkan masalah matematika

Dalam mengajar matematika, seringkali guru memaksakan caranya dalam memecahkan masalah sebagai satu-satunya cara dalam memecahkan masalah matematika. Faktanya  adalah bahwa biasanya ada berbagai cara untuk memecahkan masalah matematika dan berbagai alat yang tersedia untuk membantu  siswa mengeksplorasi berbagai cara untuk memecahkan masalah.

#3. Pendapat bahwa, siswa tidak perlu mempelajari konsep Matematika karena ada teknologi yang telah membantu mereka menyelesaikan masalah matematika.

Faktanya adalah bahwa teknologi adalah alat pengajaran yang sangat baik ketika digunakan dengan tepat. Siswa tidak menggunakan alat alat interaktif untuk berpikir menggantikan mereka. Sebaliknya, alat-alat tersebut mendorong proses berpikir dan memperkuat kemampuan mereka.Salah satu pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran adalah media manipulatif visual (virtual manipulative). Untuk mengetahui alasan penggunaan material manipulative dan virtual manipulatif saya sarankan untuk mengunjunggi artikel : Mengapa Perlu Penggunaan Material Manipulatif dalam Pembelajaran Matematika ?

#4. Pendapat bahwa Jika siswa  Ingin menguasai Matematika, Siswa harus Menghafal Banyak Fakta dan Rumus Matematika

Pendapat ini sama sekali tidak benar.  Pendapat ini hanyalah pendapat-pendapat guru yang belum move on dari teori belajar behavioristik. Guru seperti ini seperti apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Akbar Sutawidjaja dan Dr. Jarnawi Afgani D dalam bab 1 Modul Pembelajaran Matematika sebagai berikut:
..........mereka menganggap matematika sebagai sekumpulan fakta-fakta(a bag of facts) yang terpisah satu sama lain dan dapat dipelajari secara terpisah pula melalui menghafal. ..................Tentulah pendapat ini kurang sesuai dengan hakikat matematika. Matematika yang bersifat aksiomatika, abstrak, deduktif,dan simbolik yang unsur-unsurnya saling berkaitan tentulah tidak bisa dipelajari dengan cara menghafal saja
Guru matematika yang baik menyadari bahwa ada lebih dari satu cara untuk memecahkan masalah. Guru perlu  memusatkan perhatian pada memastikan siswa mereka secara konseptual memahami konsep matematika, dan kemudian memberi mereka alat yang berbeda yang memungkinkan mereka untuk memecahkan masalah dengan menerapkan keterampilan berpikir dan kreativitas.

#5. Pendapat Bahwa  Drill dan Pengulangan diperlukan bagi Siswa untuk Belajar Matematika

Meskipun kelancaran prosedural (kelancaran mengingat fakta dan melakukan algoritma matematika) sangat penting, namun cara yang lebih baik untuk membantu para siswa mempraktekkan fakta matematika yang mereka dapatkan  adalah dengan memberi siswa berbagai cara untuk mengembangkan kelancaran  saat bekerja secara kolaboratif  dengan siswa lainnya dalam memecahkan masalah. Banyak gagasan dan strategi pembelajaran algoritma atau prosedur prosedur matematika yang telah saya uraikan pada artikel lain yang telah saya tuliskan sebelumnya. Untuk melihat gagasan dan stretegi terbaik untuk pembelajaran algoritma matematika saya sarankan untuk membaca artikel berjudul: Gagasan dan Strategi Pembelajaran Algoritma atau Prosedur Prosedur Matematika. Semoga artikel ini dapat memberikan pencerahan bagi para pembaca terutama para guru sehingga akan ada banyak perubahan dalam memandang tugas sebagai pembelajar matematika.

#6. Pendapat Bahwa Anak Perempuan Kurang Tertarik pada Matematika daripada Anak Laki-Laki


Pendapat ini sudah usang jadi tidak perlu digunakan namun faktanya  adalah bias gender  ini masih sering terjadi di kelas-kelas matematika. Setiap guru matematika dapat melawan pendapat ini dengan melibatkan semua siswa termasuk perempuan dalam aktivitas pemecahan masalah dan peluang belajar yang menarik untuk gaya belajar yang berbeda.

#7. Pendapat bahwa siswa dengan kemampuan kurang baik tidak boleh  menekuni  Matematika.

Kenyataannya, para siswa yang telah berjuang untuk memahami teori matematika mungkin memiliki kelebihan dibandingkan mereka yang memiliki kemampuan untuk belajar matematika dengan mudah. Para siswa ini harus mengatasi kebingungan dan kesalahpahaman konsep-konsep matematika mereka, dan dengan demikian lebih siap untuk mengkomunikasikan pemikiran mereka tentang suatu gagasan matematik dan  menerapkan pemahaman mereka untuk memecahkan masalah. Guru matematika yang memahami hal ini dapat menumbuhkan prestasi siswa dengan memberikan siswa yang berkemampuan rendah berjuang dengan  media manipulative visual seperti animasi untuk menjelaskan konsep abstrak dan cara alternatif untuk memecahkan masalah.

Cara guru mengajar matematika harus berubah ketika kebutuhan masyarakat telah berubah. Di era informasi saat ini, siswa memiliki alat seperti kalkulator dan komputer untuk melakukan perhitungan sederhana, sehingga mereka diharuskan untuk menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) untuk membuat keputusan tentang cara menerapkan konsep matematika dan menggunakan alat matematika untuk memecahkan masalah dan mengkomunikasikan pemikiran mereka. Siswa tingkat TK pun dapat memiliki akses ke berbagai alat virtual  manipulatif untuk mengembangkan kemampuan berhitung, memperoleh kosakata matematika dan belajar untuk berpikir dan berkomunikasi secara matematis.

 Hasil penelitian tentang penggunaan manipulatif dapat dibaca pada artikel: Hasil Penelitian tentang Penggunaan Material Manipulatif Virtual dan Fisik

Tentu saja, masih banyak kesalahpahaman atau kesalahan presepsi terkait pembelajaran matematika yang ditemui jika kita mengeksplorasi pendapat semakin banyak orang terkait pembelajaran (belajar dan mengajar) matematika.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comments
0 Comments

0 Response to "Beberapa Pendapat dalam Mengajar Matematika yang dianggap Benar oleh Sebagian Besar Guru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel