Membangun Kemampuan Matematis di Sekolah Dasar dengan Pembelajaran Kontekstual

Membangun Kemampuan Matematis di Sekolah Dasar dengan Pembelajaran Kontekstual- Matematika seperti kita ketahui memiliki obyek kajian yang abstrak. Anak usia sekolah dasar menurut pendapat para ahli seperti Piaget masih berpikir sederhana dan tidak bisa berpikir abstrak. Ini masalah besar yang membuat siswa sekolah dasar sulit sekali untuk bisa memahami matematika. Ini masalah besar yang terus terjadi pada dunia pendidikan (matematika). Lalu apa solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini ?
Solusinya adalah bagaimana pintar-pintarnya guru memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai. Salah satu cara agar konsep abstrak matematika dapat mudah dipahami siswa usia sekolah dasar adalah melalui pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme yaitu pembelajaran  kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang menggambarkan tentang kegiatan belajar yang dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Yang dimaksud dengan konteks adalah konsep matematika dalam bentuk yang dikenal siswa yang bisa membantu siswa belajar konsep matematika formal sehingga  bermakna bagi mereka.

Kalau kita membaca berbagai tulisan terkait pembelajaran kontekstual,  terdapat beberapa komponen atau prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut:

Prinsip atau komponen pertama adalah  Kontruktivisme. Filsafat Kontruktivismemerupakan roh dari pembelajaran kontekstual. Artinya dengan pendekatan kontekstual, pengetahuan matematika harus dikonstruksi terlebih dahulu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata, baru kemudian serangkaian fakta, konsep dan kaidah siap dipraktekkan.Oleh karena itu siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah untuk menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.

Prinsip atau komponen kedua dari Pembelajaran Kontekstual adalah Bertany. Bertanya dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai upaya guru dalam mendorong siswa berkontribusi membentuk konstruksi pengetahuan baru dari skema atau pengetahuan prasyarat siswa. Kegiatan menanya merupakan kegiatan penting yang dijadikan inti langkah pembelajaran dalam kurikulum 2013.

Prinsip atau komponen ketiga dari Pembelajaran Kontekstual adalah Menemukan. Komponen menemukan ini merupakan kegiatan inti dari pembelajaran kontekstual.Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena kemudian dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna supaya menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Artinya pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.

Prinsip atau komponen keempat dari Pembelajaran Kontekstual  adalah Masyarakat belajar. Komponen masyarakat belajar (learning community) ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar dapat diperoleh melalui sharingantar teman atau antar kelompok yang terjadi baik di dalam maupun di luar kelas. Oleh karena itu pembelajaran dikemas dalam diskusi kelompok dengan anggota yang heterogen.

Prinsip atau komponen kelima dari Pembelajaran Kontekstual  adalah Pemodelan. Komponen pemodelan dalam pembelajaran kontekstual ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang dapat ditiru siswa.Pemodelan merupakan proses penampilan suatu contoh agar siswa meniru, berlatih, dan menerapkan pada situasi lain, serta mengembangkannya. Model yang dimaksud dapat berupa pemberian contoh, misalnya cara mengoperasikan sesuatu, menunjukkan hasil karya, mempertontonkan suatu penampilan. Cara pembelajaran semacam ini akanlebih cepat dipahami siswa dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya.

Prinsip atau komponen keenam  dari Pembelajaran Kontekstual  adalah  Refleksi. Komponen refleksi merupakanperenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari, menelaah, dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar siswa bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru.

Prinsip atau komponen ketujuh dari Pembelajaran Kontekstual  adalah  Penilaian autenti. Komponen penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Dengan demikianpenilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika proses pembelajaran siswa berlangsung,

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comments
0 Comments

0 Response to "Membangun Kemampuan Matematis di Sekolah Dasar dengan Pembelajaran Kontekstual "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel